Jumat, 22 Maret 2019

Pengalaman Pertama Menulis Resensi Berbuah Buku

   

Korjak versi cetak


     "Mbak, buku terbitan terbaru sebelah mana, ya?" tanyaku pada seorang pramuniaga di Gramedia. 
     "Oh, buku baru yang berjejer di sebelah Ibu," begitu jawab pramuniaga itu ramah, "tulisan Gus Dhofir ini lagi best seller, loh."

Mbak Ani, nama pramuniaga itu, terus menunjukkan deretan buku-buku terbaru. Saya pun jadi bingung menentukan pilihan.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memilih dua buku terbitan terbaru dari Elex Media. Salah satunya buku karangan Gus Dhofir, pilihan Mbak Ani. 

Setelah beberapa hari mengikuti training menulis resensi yang dimentori Mb Zurnila Emhar, saya lumayan sedikit mengerti tentang seluk-beluk mengulas sebuah buku, di antaranya: buku harus baru, maksimal enam bulan dari tahun terbit, dan tebalnya kira-kira minimal 200 halaman. Bahkan, setiap media online/cetak terkadang memiliki spesifikasi tertentu untuk sebuah artikel dapat diterbitkan. Sebagai contoh, Harian Koran Jakarta umumnya memuat resensi buku-buku bertema inspiratif, motivasi, dan kesehatan. Jadi, memang untuk mengirimkan tulisan ke sebuah media, kita harus mengerti keinginan editornya. 

Tugas training resensi paling lambat esok. Di detik terakhir, saya mencoba mencatat serta memberi tanda di halaman buku yang saya anggap penting. Berikut hasil resensi pertama saya, 

Korjak versi online


Mengenal Santri, Kiai, dan Pesantren 

Judul Buku: Peradaban Sarung: Veni, Vidi, Santri
Penulis: Ach. Dhofir Zuhry
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo (Quanta) 
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 255 halaman
ISBN: 978-602-04-7705-3

     Sarung adalah sehelai kain lebar berbentuk persegi panjang dengan berbagai corak yang dijahit kedua ujungnya hingga berbentuk seperti tabung. Di nusantara, sarung terdiri dari bermacam motif dan ragam cara pembuatannya. Bahkan, baru-baru ini, Presiden Jokowi mencanangkan pemakaian sarung dalam satu hari tertentu sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya.

     Namun, buku ini tidak membahas tentang esensi sepotong kain tersebut, melainkan berisi kumpulan esai yang menyuguhkan serta memperkenalkan khazanah pesantren sebagai mercusuar ilmu dan peradaban. Pesantren adalah tempat menimba ilmu bagi santri, sosok yang konsisten mengenakan sarung dalam keseharian mereka. Kegundahan penulis yang notabene adalah seorang santri (kini pengasuh beberapa pesantren) akan anggapan banyak pihak yang masih meremehkan pesantren menjadi pemicu lahirnya buku ini. Meski di era sekarang banyak pesantren tampil lebih modern, masih banyak yang mencibirnya sebagai lembaga yang kumuh, kampungan, serta memiliki kurikulum yang tidak jelas. Kaum sarungan alias santri, terutama penghuni pesantren klasik pun tersisih.

     Buku ini mengupas tuntas peran santri, kiai, dan pesantren dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Kata santri terdiri dari gabungan huruf Arab, sin, nun, ta’, ra’, dan ya’. Penulis menjabarkan makna per huruf tersebut secara gamblang (halaman 5-8). Pesantren merupakan jawaban atas krisis rohani yang sedang marak terjadi karena ajarannya disangga oleh Trilogi Santri. Pertama, santri harus memperhatikan kewajiban personal (fardhu ‘ain). Kedua, mawas diri dengan menjauhi dosa besar. Ketiga, berbudi luhur kepada Allah Swt. Serta makhluk (halaman 41).

     Karisma kiai sebagai pengasuh pesantren yang linuwih pun sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat karena dua faktor berikut. Pertama, kiai merupakan sosok berpengetahuan luas sehingga dapat dijadikan tempat berkeluh kesah serta meminta nasihat. Kedua, kiai umumnya berasal dari kalangan terpelajar dan mewarisi tradisi pesantren. Tak jarang, banyak kiai yang menjadi tokoh elite di bidang ekonomi (halaman 70).

     Pesantren ada di garda terdepan dalam mencerahkan spiritualitas kalangan menengah ke bawah. Sebagai kawah candradimuka bagi kaum sarungan yang notabene adalah generasi muda dalam rangka meluruskan ego dan menumbuhkan motivasi positif. Santri sejak dini diajarkan untuk memuliakan orang lain meski berbeda mazhab atau keyakinan. Tak bisa dimungkiri, pesantren adalah pelopor dalam hal toleransi dalam negara yang multikultural ini karena perbedaan adalah rahmat. Penulis berpendapat, lembaga ini telah berhasil mendidik manusia dengan cara memanusiakan manusia. Tidak dengan cara menghakimi karena makhluk tetaplah makhluk, bukan Tuhan yang berwenang mengklaim kesalahan manusia.

“Sebelum belajar tentang Tuhan dan agama, terlebih dahulu belajarlah tentang manusia, sehingga jika suatu saat nanti Anda membela Tuhan dan agama, Anda tidak lupa bahwa Anda adalah manusia.” (Ach. Dhofir Zuhry) 

     Satu lagi yang patut untuk dicermati, penulis menganggap pesantren layaknya matahari dalam sistem tata surya kehidupan bernegara yang tak pernah redup dan padam.  Hal lain yang menonjol dalam pesantren adalah adanya pembiasaan sikap disiplin serta budaya antre yang mengakar. Penulis juga menyisipkan pesan kiai untuk para kaum sarungan yang dirangkai dengan kalimat indah.

“Jika orang-orang di luar sana mengusir pengetahuanmu, menghardik perjuanganmu dan menjadikanmu gelandangan di penjuru bumi, yakinlah bahwa Tuhan adalah tuan rumah yang akan menampung dan menyelamatkan kesunyianmu ...” (halaman 214).

     Pantaslah jika santri kelak mampu mengubah peradaban umat manusia. Buku ini akan mengubah cara pandang kita terhadap dunia pesantren serta kaum sarungan. Penulis menyajikan dengan gaya bahasa sedikit nyeleneh, tetapi tidak vulgar. Menginspirasi tanpa menggurui. Layak dimiliki oleh pembaca yang ingin menggali serta mengenal lebih dalam seluk beluk pesantren.***

Alhamdulillah, setelah menunggu dua hari, resensi tersebut lolos di Harian Korjak. Wow, sebagai penulis kelas teri, tentu girang banget saiyah😆. Berarti saya berkesempatan untuk dapat reward dari penerbit, dong. 

Semangat ngeresensi lagi

Tadaa, setelah menunggu sekitar dua hari, hadiah buku dari penerbit pun sampai. Siap revisi, nih. Semoga kelak berhasil tayang juga di media. 

Ternyata meresensi buku banyak banget manfaatnya. Saya bertambah wawasan karena menulis resensi harus membaca buku, kan? Dapat double rewards, dari media dan penerbit. Apakah Readers punya pengalaman yang sama? Share, yuk!